Menjaga Jalan Hidup Shirotol Mustaqim: Refleksi Eskatologi Islam dalam QS 43:61 dan Al-Fatihah
Dalam dinamika kehidupan yang penuh lika-liku, menjaga jalan hidup yang lurus, shirotol mustaqim, menjadi tuntunan utama setiap muslim.
وَاِنَّهٗ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُوْنِۗ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ
wa innahụ la`ilmul lis-sā`ati fa lā tamtarunna bihā wattabi`ụn, hāżā ṣirāṭum mustaqīm
Dan sungguh, dia (Isa) itu benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang (Kiamat) itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (QS 43:61)
mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga jalan ini dalam konteks eskatologi Islam, di mana Nabi Isa AS sebagai penanda kedatangan akhir zaman juga menjadi simbol pengokoh jalan lurus tersebut. Artikel ini mengajak pembaca memahami konstelasi ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung konsep shirotol mustaqim, mengaitkannya dengan doa dalam Al-Fatihah yang kita baca setiap sholat, beserta implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kami juga mengupas hadits terkait dan pandangan ulama seperti Ibnu Katsir tentang tafsir ayat-ayat ini, serta pandangan ulama dunia yang memperkaya pemahaman kita.
Shirotol Mustaqim : Jalan Lurus dalam Hidup dan Akhirat
Tafsir Ibnu Katsir dan Perspektif Ulama Dunia
Ayat-Ayat Lain dalam Al Qur`an yang Mengandung Shirotol Mustaqim
Implementasi Shirotol Mustaqim dalam Kehidupan Sehari-hari
Hadist Terkait Shirotol Mustaqim
Shirotol Mustaqim, Doa dan Jalan Hidup
serial Husnul Khotimah
English